Yang Untung dan Rugi Karena Brexit

Rifan Financindo Berjangka – Brexit bagi Indonesia, setelah dampaknya mereda, investor diperkirakan akan kembali mencermati faktor fundamental kondisi ekonomi Indonesia. Sejauh ini kondisi ekonomi Indonesia masih baik. Pada kuartal I 2016, ekonomi Indonesia masih tumbuh 4,92 persen. Inflasi pun terjaga. Tingkat inflasi untuk tahun kalender (year to date/ytd) tercatat sebesar 0,40 persen. Sedangkan tingkat inflasi dari tahun ke tahun (year on year/yoy) sebesar 3,33 persen.

Meski dampaknya diperkirakan hanya sementara, pemerintah dan otoritas moneter Indonesia sebaiknya tetap menyiapkan langkah-langkah antisipasi untuk mencegah terjadinya risiko terburuk jika Brext ternyata berimplikasi dalam jangka panjang. Apalagi, hasil referendum Inggris telah menambah sentimen negatif kepada pasar seiring dengan meningkatnya ketidakpastian realisasi kenaikan suku bunga AS (Fed fund rate/FFR).

Secara ekonomi, baik bagi Indonesia maupun bagi Negara-Negara Asia lainya, dampak Brexit nampaknya tidak akan sedahsyat Eropa. Berdasarkan riset Capital Economics yang berbasis di London, Brexit akan menyebabkan penurunan Produk Domestik Bruto (PDB) sebesar 0,2% di seluruh Asia. Perusahaan riset tersebut mendasarkan penemuannya pada skenario terburuk yang diestimasi oleh National Institute of Economic and Social Research di London yang menyatakan bahwa Brexit akan memangkas impor Inggris sebesar 25% ke seluruh dunia dalam kurun waktu dua tahun.

Ekspor ke Inggris saat ini hanya berkontribusi sebesar 0,7% PDB Asia. Meski Inggris mengalami penurunan import sebesar 25%, namun diprediksi hanya akan mengurangi 0,2% dari PDB kawasan regional Asia. Secara detail, diperkirakan hanya ada beberapa negara di Asia yang terkena dampak lebih besar atas kemenangan Brexit. Beberapa di antaranya adalah Kamboja, Vietnam, dan Hong Kong. Negara-negara ini memiliki hubungan perdagangan yang cukup kuat dengan Inggris.

Dari sisi ekspor, ekspor jasa Hong Kong ke Inggris bernilai sekitar 2,3% dari PDB. Sedangkan untuk China dampaknya diperkirakan akan sangat kecil. Berdasarkan laporan terpisah, Capital Economics mengatakan bahwa dampak Brexit terhadap ekonomi China hampir tak terasa. Dalam riset yang dipublikasikan pada 17 Juni lalu, Capital Economics menulis, ekspor China ke Inggris setara dengan 0,5% dari PDB China. Artinya, China dapat melewati tekanan Brexit dengan sedikit santai. Sebab, sebagian besar arus modal China masih sangat tertutup. Selain itu, ketehubungan finansial antara China dan negara lain di dunia sangat terbatas.

Namun di level global nampaknya sempat terjadi goncangan yang cukup merugikan beberapa pihak. Pasar saham global yang melemah selama dua hari pasca Brexit membuat kekayaan bersih orang terkaya dunia menyusut. Ini menjadi salah satu dampak dari hasil referendum Inggris yang memutuskan keluar dari keanggotaan Uni Eropa. Kekayaan bersih 400 orang terkaya dunia, Senin (27/6), menyusut US$ 69,2 miliar. Kalau dihitung sejak Jumat pekan lalu atau sejak keputusan Inggris keluar dari Uni Eropa, total kerugian para miliarder mencapai US$ 196,2 miliar.

Data ini dihitung berdasarkan Indeks Bloomberg Billionaires yang menurun sebesar 1,8%. Rasa sakit paling dalam dirasakan oleh para miliarder yang berada di kawasan Eropa. Sejumlah 92 miliarder di Benua Biru ini kehilangan dana sekitar US$ 29,4 miliar pada Senin lalu. Selama dua hari sejak kemenangan kubu Brexit, miliarder Eropa tersebut menderita kerugian mencapai US$ 81,7 miliar. Sementara itu, jika dihitung sejak akhir tahun kekayaan bersih mereka telah meluncur lebih dari US$ 45,5 miliar atau turun 5,1%. Di sisi lain, diantara orang kaya Eropa, nasib orang terkaya ketiga Jerman, Georg Schaeffler paling apes. Kekayaan bersih miliarder ini terpangkas sebesar US$ 1,9 juta. Begitu juga pengusaha bisnis ritel asal Spanyol Amancio Ortega harus rela kekayaannya menguap US$ 1,5 miliar.

Sementara, orang kaya dunia dari Amerika Serikat (AS) dan Kanada kehilangan dana US$ 26,7 miliar pada Senin (27/6). Jika dihitung selama dua hari yakni pada Senin dan Jumat, maka harta 150 miliarder dari dua negara tersebut merosot hingga US$ 62,5 miliar. Kendati begitu, orang tajir dari AS dan Kanada itu masih menuai keuntungan. Secara total keuntungan yang diraih oleh miliarder AS dan Kanada sebesar US$ 263 juta selama setahun. Sementara itu, Bill Gates dan Mark Zuckerberg menjadi miliader AS yang hartanya turun paling tajam. Senin lalu (27/6), harta pendiri Microsoft dan Facebook itu masing-masing turun US$ 1,6 miliar.

Meski begitu, masih ada beberapa miliarder yang menuai keuntungan. Setidaknya ada 69 miliader yang kekayaannya bertambah. Salah satunya Takemitsu Takizaki, pendiri Keyence, pembuat sensor elektronik. Pemilik perusahaan yang berada di Osaka ini memimpin kenaikan keuntungan di pasar saham pasca Brexit senilai US$ 579,3 juta. Kekayaan pengusaha ritel Jepang Tadashi Yanai juga meningkat US$ 552 juta. Yanai adalah pemilik Fast Retailing Co, perusahaan ritel yang berbasis di Tokyo, Jepang. Berdasarkan indeks Bloomberg, ada 19 miliarder yang kekayaannya bertambah lebih dari US$ 100 juta Pasca Brexit.

Di sisi Asia, kerugian miliarder asal China masih lebih kecil. Pada Senin lalu (27/6/16), kerugian orang kaya China sebesar US$ 1 miliar. Sedangkan sejak Jumat pekan lalu harta orang kaya China menciut US$ 5 miliar. Selama setahun, kekayaan miliarder China turun 7,4% atau setara dengan US$ 18,7 miliar. Sebenarnya, para pebisnis di China sebelumnya cukup optimistis bahwa mereka siap terhadap hasil referendum Inggris, apapun itu. Namun kini setelah kubu Brexit menang, realita sesungguhnya sangat berbeda.

Di Tianjin, pada pertemuan tahunan tokoh-tokoh terkemuka di Asia, terungkap banyak pihak yang mencemaskan kondisi tersebut. Sebenarnya, pertemuan Forum Ekonomi Dunia di China selatan difokuskan untuk membahas solusi high-tech terhadap masalah-masalah di bumi. Ada sesi yang membahas dampak 3D printing dari obat-obatan terlarang dari internet hingga tantangan logistik dalam mengirim astronot ke Mars.

Namun, semua topik ini terpinggirkan oleh satu isu: Brexit. Meski dampak Brexit terhadap ekonomi China disinyalir tidak akan sebesar yang dialami Eropa, namun tetap saja para pebisnis di Negeri Panda itu cemas. Sejumlah investor di China berkemungkinan bisa meraup untung dalam jangka pendek. Misalnya saja dengan melemahnya nilai poundsterling, biaya wisata ke Inggris akan lebih murah untuk sementara waktu.

Namun, masalah utamanya adalah ketidakpastian umum mengenai perekonomian global pasca Brexit juga akan menyeret yuan. Sehingga dalam pertemuan tersebut, tidak semua pebisnis China merasa optimistis. Kepada salah satu media Tiongkok, Jing Ulrich, Asia Pacific vice chairman JP Morgan menilai, kondisi ini hanyalah sementara waktu. Dia meyakini, untuk jangka panjang, perekonomian akan menuju hubungan internasional terbuka yang masih tak terhentikan. Harus diakui, dalam jangka pendek, kejadian sejenis Brexit tentu akan mengejutkan pasar. Sejumlah kalangan melihat penurunan berlaku secara global. Namun demikian, sebenarnya, reaksi global cuma terkategori sentimen semata(Mbs-Rifan Financindo Berjangka)

Sumber :?financeroll